Lahan Sempit yg Optimal

Adalah  Will Allen, yang mengistilahkan  “Urban Farm”, yang  memanfaatkan lahan sempit di halaman atau teras samping rumah dengan menanam pohon pangan agaknya akan menjadi kecenderungan besar di masa depan seiring dengan exploitasi pupulasi.

Allen merupakan  salah satu pelopor gerakan pemanfaatan lahan sempit di sekitar rumah yang mengisinya dengan ratusan pot yang berisi tanaman buah dan sayur itu kini menjadi populer dan banyak diikuti jejaknya oleh warga seantero dunia.

Menurut pria yang berusia 63 tahun itu, peladangan urban bisa menjadi penyelamat bagi keluarga-keluarga miskin pangan di kota-kota besar. “Tiap orang punya hak untuk memperoleh makanan yang terjangkau, sehat dan aman. Dan salah satu solusinya adalah membuka peladangan urban,” katanya.

Istilah peladangan urban bisa diganti dengan pertanian mikro. Istilah ini lebih pas untuk kondisi lahan yang sempit, dan bisa dilakukan di mana pun, tak mesti di wilayah urban atau perkotaan.

Sebetulnya, bercocok tanam di halaman rumah, dengan menanam buah dan sayur pernah populer di era dasawarsa 40 hingga 50-an di Jerman dan Jepang. Ketika di masa krisis, banyak warga negara di kota itu mempertahankan hidup dengan menanam sayur dan buah di halaman rumah. Saat itu istilah yang dipakai adalah usaha ekonomi sussisten. Usaha pertanian untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah masa krisis berlalu dan era pangan murah berlangsung di seluruh dunia, dengan ditemukannya pupuk nonorganik, banyak orang meninggalkan usaha pertanian sussisten, dan mereka merasa lebih menguntungkan membeli ketimbang berusaha menanam pohon sendiri untuk dikonsumsi sendiri.

Kini era pangan murah telah melambaikan tangan pada dunia. Jumlah penduduk bertambah. Di Indonesia, sekitar empat juta mulut yang harus diberi makan muncul setiap tahun. Tibalah saatnya untuk memasyarakatkan usaha pertanian mikro dalam skala besar-besaran.

Usaha itu bisa dilakukan dengan sederhana, mulai dari mengumpulkan ember bekas, drum bekas, atau bisa juga mencetak sendiri pot-pot tanaman berdiameter 40-50 cm dengan ketinggian 50 cm. pot-pot itu bisa diletakkan di mana pun, bisa disusun bertingkat dengan menggunakan besi beton sebagai penyangga. Di tiap pot bisa ditanami beragam tanaman pangan mulai dari cabe, buah tomat, sayuran pari yang mudah tumbuh dan berbuah dalam hitungan satu bulan.

Jika usaha pertanian mikro itu dilakukan dengan sedikit modal, seperti pengadaan pupuk dan bibit unggul yang bisa dibeli di pusat perbelanjaan modern, hasilnya tentu akan lebih menggembirakan. Kini bertanam buah di dalam pot sudah bukan hal aneh. Pohon buah seperti anggur, mangga, belimbing atau kedondong sudah bisa ditanam di dalam pot. Kuncinya adalah pemberian pupuk yang ajek dan penyiraman tanaman yang teratur.

Harga pangan yang terus meningkat saat ini terutama sayur mayur, sudah mestinya disadari oleh masyarakat Indonesia yang miskin pangan untuk menerapkan pola peladangan urban. Jadi harus menunggu sampai kapan sementara negara-negara maju sudah menerapkannya.

semoga info ini memberikan solusi yg manfaat..

sumber : antaramaluku

This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Lahan Sempit yg Optimal

  1. kommotor.com says:

    Menarik untuk kita dukung..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s